Kamis, 03 April 2008

Munajat Cinta

"Ya Allah, aku memohon curahan cinta-Mu dan kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu, serta memohon curahan amal yang dapat mengantarkan diriku mencintai-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaan kepada-Mu lebih tertanam dalam jiwaku melebihi kecintaan pada diri sendiri dan keluargaku" (HR.Tirmidzi)

Minggu, 24 Februari 2008

Pengabdian Seorang Perencana Kota


Suksesnya pembangunan kota sangat tergantung para pelaksananya, tidak mesti dia seorang walikota atau kepala Dinas Tata Kota. Lihat peran pak Rizal yang sudah puluhan tahun bekerja di Dinas Tata Kota.

Pada saat direncanakan jalan baru Bandara Sultan Mahmud Badarudin II – Sako terlebih dahulu harus ditetapkan trase rencana jalan tersebut Disinilah pak Rizal dkk bagian perencanaan Dinas Tata Kota Palembang dimulai. Beliau harus menyiapkan peta dasar wilayah tersebut, untuk selanjutnya memeriksa di lapangan.

Pengecekan di lapangan harus dilakukan dengan susah payah karena kondisi lapangan yang becek, berlumpur dan kadang-kadang harus masuk ke rawa-rawa karena wilayahnya sebagian berupa rawa-rawa yang dalam. Tak kurang pak Rizal harus menjawab pertanyaan, caci maki terkadang ancaman dari masyarakat yang tanahnya akan dilewati jalan baru atau tergusur karena pembangunan.

Dalam melaksanakan tugasnya kadang-kadang pak Rizal terpaksa harus menggunakan mobil pribadinya karena terbatasnya kendaraan operasional kantor, juga kadang-kadang bensin harus ditanggung sendiri. Tapi pak Rizal tidak pernah mengeluh dengan keterbatasan yang ada, beliau tetap mengerjakan tugas-tugasnya dengan senang hati.

Tidak terasa tahun demi tahun telah berlalu…

Entah berapa km pak rizal telah meristis pembangunan jalan

Entah berapa buah pembangunan gedung-gedung telah beliau ukur dan tetapkan lokasinya untuk pembangunan dan kenyamanan penduduk kota.

Entah berapa bangunan real estate yang telah beliau berikan rekomendasi pembangunannya.

Tatkala penduduk kota mulai mengagumi jalan-jalan utama Kota Palembang yang sudah mulai dibenahi sempadan jalannya, apakah mereka tahu ada pak Rizal yang telah susah payah mengukur jalan-jalan tersebut ?

Hanya Allah saja yang tahu apa yang sudah diabdikan pak Rizal selama puluhan tahun di Dinas Tata Kota Palembang.

Sebentar lagi beliau pensiun…telah banyak yang diperbuat oleh beliau untuk Kota Palembang.

Semoga hasil kerja beliau akan memberikan arti bagi pembangunan Kota Palembang dimasa mendatang.

Kota Palembang yang asri, indah, nyaman dan aman itu adalah harapan dan kebanggaan beliau

Selamat bekerja pak...

Semoga Allah ridlo dan memberikan pahala yang berlipat untuk kebaikan pak Rizal.

Jangan bersedih setelah pensiun pak, kami perencana muda Insya Allah siap melanjutkan pengabdian bapak untuk terus berusaha mewujudkan keinginan bapak untuk mewujudkan kota yang dapat melayani masyarakat supaya betah tinggal didalamnya.

Semoga Allah memberikan kekuatan bagi para perencana kota untuk terus dapat mengabdi dan memberikan yang terbaik untuk ummat ini.

Amiin.

Senin, 04 Februari 2008

Pohon Tsunami yang tumbang oleh Buldozer PU

(Pohon Asam Koridor Ule-lea tinggal kenangan)

Pohon-pohon asam yang tinggi besar di sepanjang jalan Ule-lea Banda Aceh seolah menjadi Pahlawan saat Tsunami melanda Banda Aceh. Dengan ketegarannya pohon Asem tetap tegak berdiri dan melamabai-lambai seolah-olah ingin menolong Korban Tsunami yang hanyut di bawa ombak Tsunami setinggi 10-20 meter. Sang pohon dengan sigapnya menangkap anak-anak manusia untuk dipeluk di badannya, walaupun dia sendiri harus bertahan dengan sekuat tenaga menghadapi terjangan gelombang Tsunami. Tidak sedikit pohon-pohon yang tercabut dari akarnya akibat ganasnya gelombang Tsunami, tetapi pohon asam tetap tegar bertahan hingga manusia yang diatasnya selamat. Betapa bahagianya sang pohon saat seorang demi seorang turun dari pohon selamat dari amukan Tsunami.

Selesai tsunami sang pohon terus mengabdikan hidupnya menaungi para sukarewan yang kepanasan dan kelelahan karena terus bekerja mengangkat mayat-mayat yang tidak terselamatkan. Ditengah panas teriknya bumi Banda Aceh, sang pohon dengan khitmatnya memandangi para sukarelawan dengan mengatakan bertduhlah sejenak untuk kumpulkan tenaga. Udara segar aku hembuskan untuk menghilangkan kepenatan dan kepanasan.

Pasca Tsunami sang pohon terus memberikan arti, menyapa setiap pendatang dan para pengguna jalan yang melewati Ule-lea. Dengan tidak segan-segannya dia bekerja melindungi manusia dari terik matahari dan memberikan hembusan angin kesejukan, seolah-olah memberikan harapan besar bagi penduduk Banda Aceh akan kebesarannya suatu saat kelak.

Masa rekonstruksi memberikan harapan besar bagi sang pohon bahwa kebangkitan Aceh telah kembali, pembangunan terjadi dimana-mana. Pembangunan perumahan, perkantoran, fasilitas social juga pembangunan jalan-jalan. BRR juga merencanakan pelebaran jalan di sepanjang jalan Ule-lea untuk empermudah akses penduduk Aceh menuju Pelabuhan.

Air susu dibalas dengan air tuba, sang pohon harus mengorbankan dirinya kembali. Bahkan kali ini nyawanya harus dikorbankan demi pembangunan jalan.

Sebenarnya ini tidak mesti terjadi, kalau saja PU mau berpikir sedikit, perencanaan pelebaran jalan dilakukan tanpa harus menggusur dan menebang pohon-pohon tersebut.

Nasib, sungguh nasib…

Sang pohon harus merelakan dirinya untuk pelebaran jalan yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang.

Siapa yang membela pohon tsunami, manusia telah melupakan jasa-jasanya demi kepentingan pembangunan ekonomi.

Sang pohon Tsunami harus tumbang oleh Buldoser-buldoser PU tanpa ada pembelaan.

(Usulan mempertahankan Pohon Asam di Koridor Ulea-lea Tidak Didengar)