Senin, 04 Februari 2008

Pohon Tsunami yang tumbang oleh Buldozer PU

(Pohon Asam Koridor Ule-lea tinggal kenangan)

Pohon-pohon asam yang tinggi besar di sepanjang jalan Ule-lea Banda Aceh seolah menjadi Pahlawan saat Tsunami melanda Banda Aceh. Dengan ketegarannya pohon Asem tetap tegak berdiri dan melamabai-lambai seolah-olah ingin menolong Korban Tsunami yang hanyut di bawa ombak Tsunami setinggi 10-20 meter. Sang pohon dengan sigapnya menangkap anak-anak manusia untuk dipeluk di badannya, walaupun dia sendiri harus bertahan dengan sekuat tenaga menghadapi terjangan gelombang Tsunami. Tidak sedikit pohon-pohon yang tercabut dari akarnya akibat ganasnya gelombang Tsunami, tetapi pohon asam tetap tegar bertahan hingga manusia yang diatasnya selamat. Betapa bahagianya sang pohon saat seorang demi seorang turun dari pohon selamat dari amukan Tsunami.

Selesai tsunami sang pohon terus mengabdikan hidupnya menaungi para sukarewan yang kepanasan dan kelelahan karena terus bekerja mengangkat mayat-mayat yang tidak terselamatkan. Ditengah panas teriknya bumi Banda Aceh, sang pohon dengan khitmatnya memandangi para sukarelawan dengan mengatakan bertduhlah sejenak untuk kumpulkan tenaga. Udara segar aku hembuskan untuk menghilangkan kepenatan dan kepanasan.

Pasca Tsunami sang pohon terus memberikan arti, menyapa setiap pendatang dan para pengguna jalan yang melewati Ule-lea. Dengan tidak segan-segannya dia bekerja melindungi manusia dari terik matahari dan memberikan hembusan angin kesejukan, seolah-olah memberikan harapan besar bagi penduduk Banda Aceh akan kebesarannya suatu saat kelak.

Masa rekonstruksi memberikan harapan besar bagi sang pohon bahwa kebangkitan Aceh telah kembali, pembangunan terjadi dimana-mana. Pembangunan perumahan, perkantoran, fasilitas social juga pembangunan jalan-jalan. BRR juga merencanakan pelebaran jalan di sepanjang jalan Ule-lea untuk empermudah akses penduduk Aceh menuju Pelabuhan.

Air susu dibalas dengan air tuba, sang pohon harus mengorbankan dirinya kembali. Bahkan kali ini nyawanya harus dikorbankan demi pembangunan jalan.

Sebenarnya ini tidak mesti terjadi, kalau saja PU mau berpikir sedikit, perencanaan pelebaran jalan dilakukan tanpa harus menggusur dan menebang pohon-pohon tersebut.

Nasib, sungguh nasib…

Sang pohon harus merelakan dirinya untuk pelebaran jalan yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang.

Siapa yang membela pohon tsunami, manusia telah melupakan jasa-jasanya demi kepentingan pembangunan ekonomi.

Sang pohon Tsunami harus tumbang oleh Buldoser-buldoser PU tanpa ada pembelaan.

(Usulan mempertahankan Pohon Asam di Koridor Ulea-lea Tidak Didengar)

Tidak ada komentar: